Forum Diskusi: LRT dan Masa Depan Bekasi

Bekasi- Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNISMA Bekasi M. Harun Alrasyid mengatakan di masa depan, kalimalang akan menyumbangkan 60% kemacetan di Bekasi. Jumlah penduduk yang tadinya menjadi peluang ekonomi berubah menjadi bencana. Sehingga, perlu ada infrastruktur transportasi yang memadai serta menjangkau hunian masyarakat.

“Tahun 2017 jumlah penduduk Bekasi diperkirakan ada 2,8 juta jiwa. Lalu prediksi tahun 2020 penduduk Bekasi akan mencapai diatas 3 juta jiwa sedangkan gaya hidup masyakat Bekasi kebanyakan menggunakan kendaraan pribadi terutama motor. Hal itu bisa menjadi peluang yang berubah menjadi bencana kalau kita tidak hati-hati dan waspada!” papar Harun Alrasyid dalam Forum Diskusi: LRT dan Masa Depan Bekasi, Selasa (5/12), Gdg. Pascasarjana UNISMA Bekasi.

Bekasi merupakan kota satelit atau penyangga ibukota Indonesia. Banyak kaum suburban yang tinggal di Bekasi namun bekerja di Jakarta. Kaum suburban ini sendiri berjumlah jutaan dan diprediksi akan terus bertambah tiap tahunnya. Maka, hal ini juga berdampak pada arus transportasi dari Bekasi menuju Jakarta dan sebaliknya.

Jika masalah ini tidak segera ditangani dengan baik, maka dipastikan jumlah kendaraan di Bekasi yang terus bertambah akan menghasilkan kemacetan parah di Bekasi. Itulah mengapa perlu membangun infrastuktur transportasi yang nyaman, aman dan murah.

“Gaya hidup masyarakat saat ini lebih senang menggunakan kendaraan pribadi daripada kendaraan umum. 75% kendaraan di Bekasi adalah kendaraan motor, 23% kendaraan pribadi, dan hanya 2% kendaraan umum. Kalau dibiarkan bisa macet parah maka perlu kendaraan nyaman, aman dan murah. Salah satunya dengan pembangunan Light Rail Transit (LRT),” ucap Harun Alrasyid.

Senada dengan hal tersebut, Pejabat Pembuat Komitmen Prasarana LRT Jabodetabek menuturkan banyak manfaat dari adanya program LRT bagi kota itu sendiri.

“Dengan adanya LRT maka penataan Kota akan lebih baik, memunculkan kegiatan perekonomian masyarakat, membuka lapangan pekerjaan dan mengurangi kemacetan. Kami membangun LRT adalah suatu kebanggan, proyek ini dibangun untuk kepentingan masyarakat,” ucapnya dalam kesempatan yang sama.

Dalam seminar tersebut turut hadir Pengamat Tata Kota Yayat Supriatna. Yayat mengatakan agar semangat membangun LRT ini harus diimbangi peran pemerintah daerah Bekasi. Pemerintah Bekasi perlu menyiapkan Perwal dan Pergub terkait perkembangan pengelolaan tata ruang Bekasi. Agar kawasan (TOD) tidak menjadi buah simalakama. Dengan adan TOD ini, maka diharapkan dapat membuka simpul kegiatan (read: mall, hospital, dll) yang terintegrasi dengan transportasi.

“Pesan saya kepada pemerintah daerah jangan terlena! Segera buat perwal dan pergubnya terkait perkembangan pengelolaan tata ruang Bekasi agar tidak ada gesekan sosial di lapisan masyarakat bawah,” tutur Yayat.

Targetnya, program LRT Jabodetabek akan selesai tahun 2019. Tahap pertama pembangunan LRT Jabodetabek akan menghubungkan dari titik paling timur yaitu Bekasi timur menuju Cawang dan Dukuh Atas serta Cibubur-Cawang-Dukuh Atas. Rencananya, di Bekasi Timur selain dibangun stasiun LRT juga akan dibangun Depo.