Workshop Strategi Penulisan Artikel dan Publikasi Jurnal Internasional Terindeks Scopus

April 19, 2018 / Artikel, Berita

Bekasi- ‘Penelitian’ merupakan salah satu nilai, visi dan tujuan dari Tri Dharma Peguruan Tinggi. Sebagai lembaga pusat kajian dan penelitian, menghasilkan artikel dan jurnal ilmiah rasanya telah menjadi  sebuah kewajiban. Apalagi dalam rangka menuju Wordclass University, publikasi internasional merupakan fokus yang perlu diperhatikan.

Atas semangat tersebut, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNISMA Bekasi mengadakan Workshop  Strategi Penulisan Artikel dan Publikasi Jurnal Internasional Terindeks Scopus bagi para dosen dan peneliti di Bekasi, rabu (11/4), ruang seminar gedung I.

“Saat ini menjadi dosen semakin banyak tantangannya, bahkan artikel dan jurnal ilmiah sudah menjadi sebuah kewajiban. Kemudian, sebaiknya setiap penelitian terdokumentasikan dengan baik memalui jurmal yang terpublikasi,” kata Dekan FISIP Yanto Supriyatno.

Pelatihan Jurnal Internasional

Yanto berharapkan setelah pelaksanaan workshop ini dapat memanaskan kembali keterampilan yang telah dimiliki para dosen. Melatih kemampuan bagaimana menulis untuk jurnal internasional yang terindeks scopus.

“Pertama sekali yang perlu diperhatikan ialah dimana kita akan menulis (jurnal mana)? Kemudian lihat tema dan format penulisannya. Jika kita bingung menentukan tema penelitian, kita dapat melakukan strategi Korea yaitu AMT. Amati Modifikasi dan Tiru. Kita juga bisa cek di google trend, tentang isu yang sedang nge-hits saat ini. Atau yang lebih baik ciptakan inovasi baru, ” kata Ismail Suardi, narasumber dalam pelatihan workshop tersebut.

Menurut Ismail Suardi “kebaruan” memanmenulis penelitian sendiri. Dengan bersinergi dengan peneliti lain, baik dalam satu rumpun ilmu atau tidak, dapat memperkaya khazanah pengetahuan suatu jurnal.

“Kalau melakukan penelitian sendiri, paling kita menghasilkan satu jurnal setahun. tetapi jika kita berkolaborasi dengan peneliti lain, memungkinkan kita menghasilkan 2-3 jurnal per tahunnya,” tandas Ismail.

Selain itu, Ismail juga mewanti-wanti mengenai tindakan plagiarisme. “Gunakan paragraf paraphrase, saat mengutip jelaskan suatu ide dengan bahasa kita sendiri dengan tetap mencatumkan sumbernya. Seperti itu cara mengutip yang benar, karena meskipun kita mencatumkan sumber tetapi jika struktur kalimatnya sama, itu ada potensi tindak plagiarisme,” jelas Ismail *** (rf)

 

 

 

Related Post